Selama saya jadi pencari berita, saya kerap menulis tentang orang yang tewas karena kecelakaan lalu lintas. Karena wilayah kerja saya di Surabaya Utara, TKP kecelakaan yang sering saya tulis adalah yang terjadi di Jalan Kalianak. Kemungkinan besar bisa dipastikan jika orang yang mengalami kecelakaan di jalan itu pasti tewas. Sialnya, saya setiap hari melewati jalan itu. Akankah saya yang gantian akan ditulis oleh wartawan lain karena kepala saya remuk terlindas truk trailer ?
Penyebab laka lantas di Jalan Kalianak lebih kurang sama, terlindas ban truk. Bisa dibilang kami tidak perlu menanyakan penyebabnya kepada polisi untuk membuat berita tentang hal itu. Yang kami tanyakan biasanya hanyalah identitas korban maupun sopir truk tersebut dan sedikit kronologi.
Dan setelah berkali-kali menulis, saya bisa belajar bahwa mereka tewas karena begini dan begitu. Karena itulah saya jadi lebih berhati-hati saat mencoba menyalip sebuah truk trailer ataupun dump truck di jalan yang kedua kendaraan besar itu dominasi. Saya berusaha untuk tidak menyalip dari sebelah kiri, karena saya biasa menulis ‘motor korban jatuh terpeleset pasir jalan saat menyalip dari sebelah kiri truk. Akibatnya tubuh korban masuk ke dalam kolong truk sehingga terlindas ban truk’.
Tetapi kalau terpaksa, saya lakukan juga menyalip dari kiri jalan. Tetapi lebih hati-hati tentunya. Tetapi yang belum bisa saya lakukan adalah mengurangi kecepatan. Padahal saya sering menulis ‘korban dengan kecepatan tinggi melaju dari arah …….’. Tetapi agaknya saya kurang pantas ngomongin soal kecepatan, karena motor yang saya kendarai hanyalah Honda Grand keluaran tahun ‘95.
Selama 3 tahun saya melewati Jalan Kalianak, 2 kali saya mengalami insiden. Tidak parah sih tapi cukup mengingatkan bahwa saya harus lebih berhati-hati demi 2 bidadariku di rumah. Insiden pertama, saya menabrak sebuah mikrolet yang tiba-tiba mengerem mendadak. Saya sendiri sudah berusaha membelokkan setir motor ke kanan, namun tetap saja setir saya menggores bahkan merontokkan cat bagian kanan mikrolet itu. Sang sopir menoleh ke belakang. Saya hanya minta maaf tapi terus melaju. Saya tak tahu bagaimana reaksi si sopir karena saya sudah jauh meninggalkan mikrolet yang terjebak macet itu (so sorry man).
Insiden kedua tak jauh beda dengan insiden pertama yakni menabrak mobil yang mengerem mendadak. Kali ini yang saya tabrak adalah pick up. Saya sudah tak bisa menghindar lagi sehingga dengan kerasnya motor saya menabrak bemper belakang pick up itu. Akibatnya, slebor motor saya masuk sehingga tersangkut ke bemper belakang. Saya pun hampir terseret karena mobil itu terus melaju. Untungnya sang sopir segera menghentikan lajunya setelah diteriaki orang. Slebor saya pecah tetapi saya masih bisa bernapas lega.
Dari pengalaman, saya pikir tidak semua kecelakaan disebabkan oleh ketidak hati-hatian para pengendara. Ada penyebab lainnya, salah satunya adalah ngantuk ataupun ngelamun. Ngantuk sudah pasti bikin celaka, tetapi ngelamun juga sama parahnya.
Menyitir kata-kata teman saya bahwa bekerja itu tidak selalu semangat, pasti ada malesnya, saya pun juga bisa bilang jika berkendara itu tidak selalu sadar, pasti ada bengongnya. Kadang kala saya baru sadar dari bengong saat jarak dengan mobil di depan sudah mepet sekali. Untungnya bengong itu tidak sering saya alami, hanya saya alami saja saat tidak dijatah istri.
Agama mengatakan bahwa kerja adalah ibadah. Dan orang yang meninggal saat beribadah Insya Allah matinya akan syahid. Jadi andai saja saya mati terlindas truk trailer saat akan datang ke kantor, Insya Allah saya mati syahid. Tapi istri saya ngedumel tidak karuan saat saya ngomong begitu.
Agustus 12th, 2008 at 8:01 pm
hati2 ya mas..
pengalaman farieh, yang membuat farieh merasa lebih dekat dengan mati adalah ketika berada di kendaraan. apalagi kendaraan roda dua.
moga selalu di beri keselamatan.
Agustus 12th, 2008 at 8:59 pm
yo jelas mas, namanya juga sumber keluarga, biarpun syahid tapi istri siapa yang ngurus, insya Allah ngurus keluarga juga mulia koq
keep fighting
Agustus 12th, 2008 at 10:40 pm
yah tapi nyetirnya hati2 dong..
jangan seenaknya ngomong begitu..
hmmm..
Agustus 18th, 2008 at 5:12 pm
klo gt jangan pulang lewat kalianak, lewat kalijudan lebih aman
Agustus 21st, 2008 at 5:04 pm
pour Andrews, kalo lewat Kalijudan kapan nyampenya ke rumah !!!!!!!!
Agustus 28th, 2008 at 7:08 pm
wah ogut kalo naik motor suka sambil bengong dan berhayal…
makasih udah diingetin
September 9th, 2008 at 2:16 pm
Wah, kalau cerita tentang Jalan Utama Surabaya - Gresik ini, benar-benar mengerikan. Udah panas, debu, musuhnya truk2, jalannya terkadang sering berlubang.
Dulu sih awal2 kuliah, jarum di spedo gak pernah nunjuk dari kurang dari sekitar 60 km/jam (kecuali macet). Tapi sejak jatuh dan hampir tewas di jalan ini di sekitar semester 5an, udah gak pernah lagi deh. Ngeri..
Hati2 Mam kalau lewat jalan entu, apalagi ente setiap hari lewatnya. Jangan ngebut. Inget yang di rumah, bro…
Juli 7th, 2009 at 10:14 pm
[...] [Artikel - Diskusi]Safety Riding - Today, 22:08 Saya Mati Terlindas Truk Trailer Published by cebongan at 7:54 pm under Je Suis Selama saya jadi pencari berita, saya kerap [...]